Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung secara resmi mengambil sikap tegas menyusul dinamika yang terjadi dalam Forum Sidang Pleno Pra Temu Nasional Ke-XV BEM Nusantara di Yogyakarta. Sebagai bagian tak terpisahkan dari keluarga besar BEM Nusantara, DEMA UIN SATU memilih untuk melakukan aksi walk out dari forum tersebut demi merespons dinamika persidangan dan ketidakadilan yang mencederai nilai-nilai independensi serta integritas gerakan mahasiswa.
Sikap ini didasari atas sejumlah temuan krusial di lapangan, di antaranya ketidaknetralan presidium sidang yang dinilai gagal bertindak adil dan independen dalam memimpin forum. Selain itu, terdapat tindakan diskriminasi terhadap perwakilan Wilayah Jawa Timur melalui pembatasan ruang gagasan, serta minimnya profesionalitas Steering Committee (SC) dari Pengurus Pusat dalam menjaga kondusifitas persidangan. Hal ini memicu desakan evaluasi total terhadap Pengurus Pusat agar ke depan dapat tercipta ruang forum yang kondusif, demokratis, dan konstruktif.
Ketua DEMA UIN SATU Tulungagung, Roqi Wildana Al-Jauhar, menyampaikan pandangannya terkait langkah politik dan moral yang diambil oleh perwakilan Jawa Timur. Ia menyampaikan bahwa aksi walk out ini bukanlah bentuk lari dari tanggung jawab, melainkan sebuah sinyal keras atas kebuntuan nilai-nilai demokrasi di dalam ruang persidangan.
"Langkah yang kami ambil bersama kawan-kawan Jawa Timur ini adalah wujud perlawanan terukur terhadap ruang-ruang diskusi yang sudah tidak lagi sehat dan adil. Kami tidak sedang memecah belah, justru kami ingin menyelamatkan marwah BEM Nusantara agar kembali pada fitrah gerakannya yang independen dan berorientasi pada kepentingan rakyat, bukan kepentingan kelompok tertentu," tutur Roqi.
Roqi Wildana Al Jauhar juga menyampaikan bahwa perwakilan Wilayah Jawa Timur sama sekali tidak membawa kepentingan politik praktis ataupun berniat menjatuhkan pihak manapun. Keputusan ini diambil murni sebagai langkah paling realistis demi menjaga integritas, martabat, dan kondusifitas bersama atas segala hura-hara yang terjadi selama pelaksanaan Pra Temu Nasional Ke-XV.
Meskipun memilih keluar dari ruang sidang, DEMA UIN SATU bersama BEM Nusantara Jawa Timur memastikan bahwa komitmen mereka untuk terus membersamai BEM Nusantara baik secara struktural maupun kultural tidak akan pernah goyah. Seluruh kawan seperjuangan dari berbagai daerah diimbau untuk terus menjaga komitmen dalam merawat keutuhan BEM Nusantara sebagai motor penggerak gerakan sosial yang konsisten memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
"Ketika ruang diskusi tak lagi menyajikan keadilan, maka keluar dari ketidakadilan adalah sebuah bentuk kebenaran."
HIDUP MAHASISWA!
HIDUP RAKYAT INDONESIA!

